1

Hati-hati, TBC Siap Mengancam!

Hati-hati, TBC (tubercolosis) siap mengancam siapa saja! Kira-kira himbauan yang terpajang hampir di setiap Puskesmas, rumah sakit hingga klinik-klinik ini mesti sama-sama kita ikuti. Masalahnya, TBC memang benar-benar siap mengancam di Riau.

Mycobacterium tuberculosis

Mycobacterium tuberculosis

Rini Hermiati, Kepala Dinas Kesehatan Pekanbaru kepada wartawan menyebutkan, angka penderita TBC di Pekanbaru sebenarnya masih tinggi, namun belum terdata secara pasti. Dari data yang sempat dihimpun salah satu media massa disebutkan terdapat 900 penderita dari berbagai jenis kelamin dan tingkat usia.

“Kalau masalah kelamin maupun umur semua merata. Semua bisa kena, karena virus penyakit ini tidak memandang usia dan strata sosial,” ujar Rini kala itu.

Pemerintah sebenarnya sudah menekankan kepada masyarakat agar sebisa mungkin menjauhi penyakit ini. Dari berbagai himbauan yang ada, masyarakat diminta untuk senantiasa hidup bersih dan sehat agar tak menjadi sasaran empuk bakteri tersebut.

Lalu bagaimana bakteri ini bisa begitu menakutkan?

TBC atau TB merupakan penyakit yang muncul saat seseorang diinfeksi Mycobacterium tubercolosis, bakteri yang kerap menjadikan paru-paru penderita sebagai sasaran aksi pembunuh. Tapi dalam beberapa kasusTBC juga ikut menyerang organ lain.

Bakteri berukuran mikro ini bisa menyebar dan menular melalui udara dan cairan. Saat seorang penderita berada di lingkungan masyarakat, terdapat potensi besar penularan akibat sosialisasi dan komunikasi, apalagi didukung pola hidup yang tidak sehat.

Perlu diketahui, TBC merupakan penyakit pembunuh paling tua yang pernah dikenal peradaban manusia. Penderita jika tidak ditangani dengan benar bisa meninggal dalam lima tahun pertama. Wajar kiranya WHO telah mencanangkan TBC sebagai salah satu yang ada pada daftar Global Emergency pada tahun 1992.

Apakah TBC bisa disembuhkan?

Tentu saja. Namun tindakan medis membutuhkan waktu yang cukup panjang, setidaknya enam bulan. Dalam rentang waktu tersebut, si pasien mesti mengikuti setiap metode pengobatan secara intensif. Pasalnya, sedikit saja kelalaian akan membuat serangan bakteri akan kebal terhadap dosis-dosis medis yang menjadikan pengobatan akan lebih sulit. ***(DP)

Click Here to Leave a Comment Below 1 comments