Ritel Terlalu Banyak, Membunuh Pedagang Kecil Secara Perlahan

Pekanbaru– Apa fenomena pasar Pekanbaru yang Anda lihat belakangan? Bermunculannya begitu banyak ritel super market bak jamur di musim hujan sekilas membuat kita takjub. Begitu cepat kah kota ini berkembang? Namun tanpa disadari, ritel-ritel ini pula yang secara perlahan membunuh usaha pedagang kecil yang lambat-laun kehilangan omset penjualan, hingga mereka gulung tikar dan menjadi pengangguran.

Setelah sederetan nama bermunculan, seperti Indomaret, Giant, Hypermart, Alfamart dan berbagai nama lainnya, banyak diantara pedagang kecil hingga skala grosir dan mini market mengeluhkan kondisi usaha mereka yang terjerembab sangat cepat. Omset harian turun hingga lebih dari 50%, diikuti dengan ketidakmampuan mereka untuk menyaingi kompetitor raksasa tersebut.

“Tak ada yang bisa kami lakukan. Pemerintah juga seakan diam, walau sudah mendengar keluhan kami,” keluh Ratna Istami, salah satu pemilik mini market di Pekanbaru, saat berbincang dengan Pekanbaru.co, Minggu (07/04/2013) sore.

Ratna bahkan memperkirakan kemungkinan terburuk menutup usahanya karena selalu merugi dari hari ke hari. “Sebulan ini sangat suram. Orang-orang membawa sekantong besar barang usai berbelanja di super market ritel nasional itu, dan tak lagi melirik kami yang justru berada lebih dekat dan menawarkan harga jauh lebih murah,” lanjut dia.

Belakangan beredar kabar akan adanya pemberian izin operasi bagi 200 ritel juga semakin mengancam nasib rakyat kecil. Untuk itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru Muhammad Sabarudi ST berkomentar agar Pemerintah Kota Pekanbaru bisa meninjau kembali masalah perizinan ini, dan jika perlu dihentikan.

“Kini kita rasa belum terlambat untuk menghentikan pemberian izin terhadap ritel-ritel ini. Saya atas nama masyarakat meminta Pemko agar bisa menghentikan pemberian izin jika memang isu itu benar,” ujar Sabarudi.

Politisi PKS ini juga telah menerima banyak laporan dan keluhan masyarakat terkait berdirinya terlalu banyak ritel. “Kalau memang penting untuk pembangunan, dua ritel untuk satu kecamatan itu sudah cukup. Kalau tiap kecamatan ada 4 atau lebih ritel, masyarakat pedagang tak akan bisa bertahan,” lanjut dia. ***(DP)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments