Menikmati Indahnya Negeri Istana, Siak Sri Indrapura

PEKANBARU.co — Kota Siak Sri Indrapura merupakan Ibukota Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Terlepas dari fungsinya tersebut, kota yang berada di tepi aliran Sungai Siak ini menyimpan begitu banyak keindahan. Pesona alam nan hijau hingga hamparan perkebunan produktif membuat Siak Sri Indrapura layak dijadikan salah satu wilayah tujuan agrowisata. Adanya berbagai situs sejarah, dilingkupi budaya Melayu kental kiranya memperlengkap daerah ini sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Riau.

Lalu kenapa kota kecil ini disebut Negeri Istana? Sederhananya, di salah satu sudut Siak Sri Indrapura terdapat Istana Siak atau yang disebut Istana Asherayah Al-Hasyimiyah. Pusat pemerintahan Kesultanan Melayu terbesar di Riau itu dibangun pada tahun 1889 di era pemerintahan Sultah Syarif Hasyim  yang pada akhirnya ikut menyumbang tenaga terhadap kemerdekaan Indonesia. Selain adanya bangunan istana, di kota ini juga akan banyak ditemui makam bersejarah, bangunan bersejarah, jembatan-jembatan fenomenal, aneka kolam dan pemandian hingga jejak kebudayaan penting di peradaban Melayu.

Untuk mencapai Siak Sri Indrapura bisa ditempuh melalui jalur darat dan laut dari Pekanbaru, Dumai, Bengkalis, Selat Panjang, Batam dan Tanjung Pinang. Dari Pekanbaru, pengunjung dapat memulai perjalanan dari Pelabuhan Sungai Duku jika tertarik untuk menikmati sensasi Sungai Siak dan perairan di pesisir timur Sumatera. Kalaupun tidak, melewati jalan darat akan tetap memberikan pengalaman menarik.

Dari Pekanbaru memang tersedia berbagai angkutan darat menuju Siak Sri Indrapura. Dengan menempuh jarak sekitar 135 KM lebih kurang dua jam perjalanan, kita akan mulai merasakan segarnya udara kawasan perkebunan hijau. Tak lama, kendaraan dihadapkan dengan sebuah jambatan yang indah. Itulah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang melintasi Sungai Siak, sebuah ikon monumental Kota Siak Sri Indrapura.

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Dari atas jembatan akan terlihat hampir seluruh penjuru kota. Memang kota ini bukanlah kota yang besar. Uniknya, di sisi ini kita juga disuguhi tampilan Islamic Center Siak Sri Indrapura dari atas. Mesjid berukuran besar ini merupakan pusat agama Islam di wilayah tersebut, meski di sini banyak mesjid lain yang berukuran tak kalah luar biasa.

Lepas dari jambatan, kita hanya membutuhkan waktu tak lebih dari sepuluh menit agar bisa mencapai Istana Siak (Istana Asherayah Al-Hasyimiyah). Kiranya jeda tersebut terasa kurang tatkala menikmati berbagai hiasan taman perkotaan, hutan kota hingga bangunan khas Melayu yang banyak berdiri di sepanjang jalan yang mulus tanpa lobang. Maklum, Kabupaten Siak memang salah satu daerah terkaya di Provinsi Riau dengan APBD yang cukup besar.

Istana Asherayah Al-Hasyimiyah berada di Kelurahan Kampung Rempak, Kecamatan Siak. Di sini dahulunya Kerajaan Siak dan Kesultanan Siak Sri Idrapura mengontrol pemerintahan. Banyak peninggalan yang terpajang rapi di setiap sudut istana. Kekayaan nilai sejarah ini pula yang membuat Istana Asherayah Al-Hasyimiyah tak pernah sepi pengunjung, terutama di waktu liburan.

Ada ratusan peninggalan masa Kesultanan Siak yang masih terjaga dengan baik. Sebagian besar merupakan pernak-pernik yang dibawa Sultan dari berbagai daerah di dunia, terutama negara-negara Eropa. Kabarnya, petinggi Kesultanan Siak memang terkenal dekat dengan berbagai pemerintahan di seantero Bumi.

Istana Asherayah Al-Hasyimiyah jika ditelisik lebih jauh akan terasa benar-benar unik. Selain bangunannya yang sangat rapi, struktur khas gedung tersebut sebenarnya merupakan penggabungan beragam arsitektur, seperti Eropa, Arab dan Melayu. Makanya banyak yang menyebut Istana Asherayah Al-Hasyimiyah sebagai Istana Matahari Timur.

Di depan kawasan istana, terdapat sebuah kompleks pemakaman. Di sinilah bersemayam keluarga kerajaan masa lampau. Kompleks tersebut dinamai Pemakaman Koto Tinggi, merujuk ke nama daerah ini yang dahulunya disebut Koto Tinggi (Kota Tinggi).

Sultan Syarif Kasyim (Sultan Siak), permaisuri dan keluarganya sendiri dimakamkan tak jauh dari lokasi ini, tepatnya di samping Mesjid Kesultanan Syahbuddin. Banyak pengagum Sultan yang selalu berziarah ke lokasi tersebut setiap tahunnya. Selain kaya nilai religius dan sejarah, di Mesjid Syahbuddin juga banyak hal menarik, seperti adanya mimbar unik dari kayu bermotif daun, sulur dan bunga.

Mesjid Syahbuddin Siak Sri Indrapura

Mesjid Syahbuddin Siak Sri Indrapura

Beranjak dari kawasan religi tersebut, kita akan berpapasan dengan sebuah bangunan Melayu bercorak cokelat dan memiliki banyak pintu serta jendela. Itulah Balai Kerapatan Kesultanan Siak, tempat di mana Sultan berdiskusi dengan petinggi kerajaan maupun rakyatnya. Hingga saat ini bangunan tersebut dirawat rapi, sebagai aset sejarah yang tak ternilai harganya.

Sebenarnya banyak sejarah penting peradaban Melayu lain yang patut digali di daerah ini. Jika melihat tata kotanya, di kawasan kerajaan (yang kini merupakan wilayah Kelurahan Kampung Rempak dan Kampung Dalam) justru yang banyak dijumpai adalah pemukiman etnis Tionghoa. Daerah yang disebut Pasar Lama ini merupakan daerah terpadat di Kota Siak Sri Indrapura.

Konon, kerjasama antara Kesultanan Siak Sri Indrapura dengan para saudagar Tionghoa memang sangat erat. Berbagai kebutuhan kerajaan dipasok oleh pedagang Negeri Bambu tersebut. Meski faktanya demikian, ditemukannya nuansa khas budaya Sungai Kuning tentu tetap menarik untuk ditelusuri.

Jika kita ingin bermalam di Kota Siak Sri Indrapura, ada beberapa hotel dan penginapan yang bisa digunakan. Pengunjung bisa memesan akomodasi di Grand Mempura Hotel yang terdapat di Kecamatan Mempura, Hotel B&B, Hotel Winaria, serta berbagai penginapan dan homestay yang dipersiapkan oleh pemerintah setempat. Namun sebaiknya lakukan reservasi lebih awal agar tetap kebagian tempat. ***(DP)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments