Cara Mencegah Penyakit Difteri dengan Gerakan 6B

Kondisi kesehatan dunia pernah memasuki masa masa sulit dimana ribuan bahkan lebih,

nyawa anak-anak di dunia direnggut dengan keganasan virus penyakit Difteri.

Penyakit ini menjadi momok yang dahulu kala sangat mengancam kondisi kesehatan anak-anak di seluruh dunia.

Sejarah Singkat Penyakit Difteri

Flashback sejenak, ternyata virus ini mulai menjangkiti manusia sekitar awal abad ke V Sebelum Masehi.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh virus keji bernama Corynebactherium Diphtheriae.

Studi tentang difteri hangat dibahas dimana-mana.

Tak terhitung Jurnal ilmiah, penelitian medis dan topik diskusi kesehatan yang membahas soal Difteri.

Virus ini mampu beradaptasi dengan cepat saat bertemu dengan calon korban baru dan mengakibatkan terjadinya komplikasi penyakit akut nan mematikan.

Kenapa mematikan?

Sebab korban dapat mengalami komplikasi gagal ginjal, gagal nafas, kelumpuhan syaraf dan gagal jantung.

Penularan Difteri diantaranya melalui benda yang mendapat kontak langsung dengan bakteri virus, menyentuh bisul atau terkena ludah liur penderita, atau juga karena konsumsi susu ternak tanpa sterilisasi.

Hingga pada tahun 1890 hasil laboratorium uji vaksin difteri terus dilakukan dan dikembangkan sampai pada 1920 resmi dikeluarkan vaksin Difteri, yang sangat efektif mengurangi kejadian Difteri secara drastis.

Kesuksesan vaksin ini memberi pengaruh positif bagi sejumlah negara untuk menjadikannya program wajib kesehatan bagi setiap warga negara, termasuk Indonesia.

Negara kita mewajibkan imunisasi Difteri yang masuk pada DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) masuk dalam program wajib imunisasi dasar yang harus didapatkan setiap anak sesuai dengan Pengembangan Program Imunisasi (PPI).

Indonesia KLB Difteri

Namun sayangnya…

Difteri mulai merangkak bangkit dan mengancam keselamatan manusia.

Tahun 2011 Indonesia diklaim oleh WHO sebagai negara kedua setelah India dengan angka korban difteri mencapai 811 kasus tersebar di 18 provinsi dan 38 kasus diantaranya meninggal dunia.

Jawa Timur menunjukkan data tertinggi dengan 664 kasus difteri dan 20 korban meninggal dunia.

Jumlah terus menanjak tajam hingga saat ini Indonesia mengalami Kondisi Luar Biasa Difteri.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kesehatan, ini menjadi fakta yang sangat menyedihkan bagi masyarakat dan pemerintah.

Gejala Difteri

gejala difteri anak

Kenali gejala Difteri seperti berikut:

  • Demam dengan suhu 38 derajat atau lebih
  • Munculnya membran putih keabu-abuan di langit-langit hingga ke tenggorokan
  • Kesulitan menelan
  • Terganggunya pernapasan
  • Pembengkakan di leher
  • Pusing dan merasa selalu lelah
  • Ingus sulit berhenti, kadang disertai darah

Kenali Gejala Difteri

Bagaimana Cara Mencegah Difteri?

Yuk cegah teror virus Difteri dengan menerapkan gerakan 6 B, yakni:

  1. Berikan anak imunisasi lengkap

Tiga tahap pemberian imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) wajib diberikan pada anak dalam 3 tahap awal kehidupannya.

Tahap pertama usia 2-4 bulan, tahap kedua usia 3-5 bulan, tahap ketiga usia 4-6 bulan.

Setelah anak mencapai usia sekolah, pemerintah juga membuat program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kembali anak diberikan imunisasi DT saat kelas 1 SD dan vaksin DT pada usia sembilan tahun.

  1. Beri makanan sehat bergizi

Stop mengajarkan anak mengkonsumsi Junkfood.

Sebaiknya, anak dididik untuk terbiasa memakan masakan yang dimasak di rumah.

Ini jauh lebih baik dari pada membiarkan anak jajan sembarangan atau mencekokinya dengan berbagai merk produk makanan instan.

Utamakan anak mengkonsumsi masakan rumahan. Biarlah kita bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.

Biarlah lelah diawal menyiapkan semua kebutuhan makan keluarga lalu bahagia kemudian karena anak dan seluruh anggota rumah tangga tumbuh sehat sejahtera lahir dan batinnya.

  1. Bersihkan lingkungan tempat tinggal, termasuk rumah dan seisinya, tempat tidur, peralatan pribadi (handuk, sikat gigi, alat makan, mainan anak dsb)

Banyak aspek dalam menjamin kelayakan kebersihan tempat tinggal, diantaranya kecukupan pencahayaan alami yang berakibat pada kondisi kelembapan rumah.

Virus Corynebactherium Diphtheriae dapat mati jika terpapar sinar matahari langsung selama 3 jam.

Selanjutnya, kebersihan kamar tidur, jumlah orang dalam setiap kamar, kebersihan dinding, lantai dan peralatan rumah tangga perlu senantiasa dijaga.

  1. Bawa anak ke pusat keramaian? Kurangilah jika tidak begitu penting

Mayoritas orangtua masa kini suka sekali membawa anak sekalipun masih bayi ke tempat-tempat umum.

Entah untuk sekedar upload foto di pusat perbelanjaan seperti Department Store, Mall, atau tempat keramaian lainnya yang bersifat indoor.

Padahal, jika dirasa tidak ada kepentingan mendesak sebaiknya anak-anak dikurangi untuk diajak ke tempat-tempat tersebut sebab ada banyak sekali jenis virus hilir mudik di seaaakitar lokasi yang mengancam keselamatan anak.

  1. Belajar mengenali lingkungan bermain anak

Bukan berarti menjadi orang tua yang selau cemas karena hal itu dapat menghalangi kemandirian buah hati kita.

Namun, mengenali teman-temannya dan lingkungan yang kerap jadi tempat mereka bermain tetaplah perlu.

Dengan mengetahui persis apa saja dan kemana mereka bermain, kita dapat membantunya untuk terhindar dari berbagai ancaman sumber penyakit.

  1. Banyak membaca untuk menambah pengetahuan orang tua

Menjadi orangtua adalah peran kompleks. Seluk beluk keseharian anak, perkembangan dunia anak dan seluruh aspek yang berhubungan dengan tumbuh kembangnya ialah ilmu yang perlu kita pelajari.

Jadilah orangtua yang open minded terhadap setiap hal baru.

Carilah sumber-sumber kredibel soal dunia anak dan kesehatannya guna memperkaya kualitas parenting  kita.

Semakin banyaknya ilmu yang kita punya, akan semakin memudahkan kita dalam menjaga anak selalu tumbuh sehat dan ceria.

Berarti anak saya aman, sebab saya berikan imunisasi dan vaksin lengkap!???

vaksin-virus-difteri

Wah, ibu, bapak, jangan buru-buru merasa aman.

Memang, 95% dari kelengkapan imunisasi dan vaksin yang diberikan pada anak mampu membekali ketahanan tubuhnya terhadap paparan virus di luar tubuhnya.

Tapi, asupan makanan, stamina anak, dan pola istirahatnya tetap harus selalu dijaga agar imunitas anak stabil dan tidak mudah diserang penyakit.

Apalagi dalam kesehariannnya anak kita akan terus bertemu dan bermain dengan teman-temannya yang mungkin saja tidak mendapat imunisasi lengkap.

Apakah korban difteri hanya usia bayi hingga anak saja?

Jawabannya Tidak!

Tak hanya anak atau bayi, orang dewasa pun bisa menjadi korban Difteri.

Riwayat Imunisasi masa lampau yang tidak lengkap dan kondisi stamina yang menurun, didukung lingkungan tempat tinggal yang kurang layak kebersihannya, sangat berpotensi untuk membantu perjalanan virus ini mencari korban baru.

Makanya, jika tubuh melai memberikan tanda gejala yang sesuai, segera periksakan diri ke layanan kesehatan terdekat.

Bahkan, hewan ternak juga turut bisa mengalami penyakit mematikan ini.

Pengaruh kelompok anti-vaksin

Meskipun kajian mengenai vaksin terus dilakukan dan disempurnakan perkembangannya sebagai bentuk tanggung jawab kesehatan dunia, namun selalu saja ada kelompok minoritas yang menolak anak untuk diberi vaksin.

Informasi simpang siur kadang menimbulkan kecemasan tersendiri bagi orang tua yang merasa vaksin justru akan melemahkan sistem imun bawaan dalam tubuh anak yang memang sudah ada sejak awal kelahirannya.

Jika dalam skala kecil, kelompok anti-vaksin ini tidak akan memberikan efek yang berarti.

Tapi ceritanya akan berbeda apabila kelompok ini terus mengajak orang lain di sekitarnya untuk mengikuti jejak mereka.

Jumlah anggota kelompok anti vaksin hari ini semakin banyak, sehingga sangat memungkinkan anak-anak yang mendapat vaksin lengkap rentan bergaul, bermain dan bersentuhan dengan anak yang tidak mendapat vaksin.

Kenyataan ini dapat melumpuhkan tembok pertahanan bagi mereka yang mendukung program vaksin.

Sebab itulah sebagai orangtua kita perlu membuka pikiran. Jangan sampai sempitnya pengetahuan justru menjerumuskan kesehatan anggota masyarakat lainnya. Bijaklah menjadi orangtua! (IW)

Tanda: gambar kelenjar keabu abuan difetri

Leave a Comment