Mendagri Minta Riau Pastikan Gafatar Dumai

Di Riau masih tersisa Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dianggap menyimpang. Melalui Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Gafatar cabang Kota Dumai, Provinsi Riau menyebutkan gerakan terlarang ini masih akan aktif hingga 27 Maret 2018. Menanggapi hal ini Mendagri RI Tjahjo Kumolo meminta agar pihak berwenang segera bertindak tegas pada gerakan terlarang yang masih ada tersebut.

“Kalau masih ada Gafatar yang aktif, silakan segera datangi kantornya atau datangi pengurusnya. Minta mereka agar menutup dan menghentikan segala aktivitasnya,” papar Mendagri RI, Tjahjo Kumolo. (22/1/2016) di Balai Serindit, Gedung Daerah Provinsi Riau.

Pemerintah daerah diharapkan bertindak waspada pada gerakan-gerakan menyimpang yang ada di daerah. Jangan sampai di pusat tidak terdaftar namun di daerah terdaftar dan beroperasi.

“Jangan sampai kita kecolongan seperti gerakan Ahmadiyah dulu. Gafatar itu di pusat sudah tidak terdaftar, tapi di beberapa daerah seperti Riau, Bengkulu dan beberapa daerah lain gerakan ini beroperasi,” tambah Tjahjo.

Gafatar selama ini selalu berlindung dalam kegiatan peduli sosial dalam menjalankan aktivitasnya. Namun kenyataannya banyak hal-hal menyimpang yang mereka lakukan. Gafatar memadukan ajaran-ajaran agama menjadi satu sehingga sudah jelas penyimpangannya. Seperti misalnya Gafatar melarang pelaksanaan shalat Jumat.

“Gafatar itu memadukan semua agama menjadi satu. Setiap agama kan berbeda keyakinan, tidak bisa dipadukan,” tegas Mendagri RI.

Lebih lanjut Mendagri juga meminta kepada masyarakat untuk bisa menerima kembali mantan anggota Gafatar yang telah kembali kepada jalan yang benar dan berinteraksi lagi dengan masyarakat. Jangan sampai diperlakukan tidak baik jika memang benar-benar sudah menyadari kesalahannya. Pihak Forum Agama diharapkan bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang hal tersebut agar tidak menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat.

“Untuk itu forum umat beragama harus memberikan pencerahan kepada masyarakat agar mereka bisa diterima kembali ditengah-tengah masyarakat. Masyarakat kita kan orangnya pemaaf, tidak mungkin tidak mau memaafkannya,” ujar Tjahyo Kumolo.

Leave a Comment