Kriteria Khusus Dokter Pemeriksa untuk Tes Kesehatan Capres-Cawapres

Pekanbaru.co – Telah dilakukan tes kesehatan terhadap pasangan capres-cawapres pemilu 2014 kemarin, Kamis (22/5). Tes kesehatan ini dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto dengan melibatkan lima puluh orang dokter dari 14 dokter spesialis untuk melakukan pemeriksaan. Bagaimanakah kriteria dokter-dokter tersebut?

Menanggapi hal ini, seperti ditemui pada Kamis (22/5/2014) di Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta, dr Daeng Muhammad Faqih MH, Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan bahwa IDI mempunyai perhimpunan dibawah mereka. Sehingga, mereka pun mencarikan dokter yang benar-benar ahli pada bidang spesialisasinya masing-masing.

Dokter yang melakukan tes kesehatan pada capres-cawapres pemilu tahun ini harus sudah berpengalaman praktik lebih dari 15 tahun serta direkomendasikan perhimpunannya. Dr Daeng juga memberikan alasan bahwa karena mereka meminta dicarikan dokter terbaik untuk masing-masing bidang spesialisasinya. Tapi, khusus dokter kesehatan jiwa mereka meminta sejumlah 4.

Mengapa dokter kesehatan jiwa jumlahnya lebih banyak daripada dokter spesialis lainnya? Dr Daeng menjelaskan hal ini dikarenakan waktu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mental cukup lama, yaitu bisa satu hingga dua jam untuk setiap orangnya.

Selain itu, kriteria dokter yang menjadi tim tes dilihat dari segi netralitas. Dokter yang terlibat dalam pemeriksaan kesehatan tersebut harus independen. Dokter-dokter tersebut bukan dokter langganan ataupun dokter pribadi dari para calon. Tidak hanya itu saja, dokter juga tidak boleh mempunyai ikatan atau hubungan keluarga.

Tentunya, mereka pun tidak ikut terlibat dalam partai politik. Hal ini bertujuan agar dokter tersebut benar-benar netral. Dr Daeng juga menambahkan bahwa UU pun juga tidak memperbolehkan adanya ikatan atau hubungan khusus antara dokter pemeriksa dengan calon. Oleh karena itulah IDI mencarikan dokter yang tidak mempunyai hubungan khusus dengan capres-cawapres.

“Selain itu memang kode etik dokter tak memandang gender, agama, suku, kepentingan, terlebih golongan politik. Sehingga, sejatinya dokter memang tidak memihak. Oleh karena itu, kriterianya itu kemampuan dan netralitasnya yang telah disaring dari perhimpunannya masing-masing,” terang dr Daeng.

 

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments