Rp 173 Juta Demi Foto Selfie !

Penampilan adalah hal nomor satu untuk kebanyakan wanita, bahkan sekedar untuk berfoto. Untuk itu, operasi plastik adalah jalan utama untuk memperbaiki penampilan.

Hal ini tercermin dari seorang wanita asal Los Angeles yang rela menghabiskan Rp 173, 4 juta atau US$50 ribu untuk melakukan operasi plastik demi foto selfie-nya.

Triana Lavey, seorang wanita yang berprofesi sebagai pencari bakat melakukan hal tersebut untuk memperoleh foto selfie  cantik yang akan diunggahnya di jejaring sosial.

Ia percaya bahwa dengan melakukan operasi plastik, ia akan tampil lebih cantik dan percaya diri sehingga ia dapat menampilkan foto yang bagus dan tidak memalukan.

Wanita ini  juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak puas dengan penampilannya dalam facebook dan skype. Ia lebih memilih untuk melakukan operasi plastik untuk mempercantik wajahnya, tepatnya pada bagian mata dan dagu. Bahkan, Lavey juga melakukan sedot lemak dan suntik botox. Ia lebih menyukai hal ini daripada menggunakan photoshop yang mempercantik dirinya secara virtual.

“Selfie Anda adalah citra Anda, sehingga Anda dapat menemukan kembali diri Anda setiap hari dengan hanya melihat iPhone Anda. Ini adalah bentuk sah dari mempromosikan diri,” kata Lavey.

Hal ini sama seperti yang diungkapkan British Association of Aesthetic Plastic Surgeons (BAAPS) bahwa kebanyakan pasiennya yang terdiri dari anak muda mengalami masalah kepercayaan diri sehingga mereka berlomba-lomba melakukan operasi plastik.

Bahkan, pada 2013 lalu  prosedur operasi plastik di Inggris naik hingga mencapai 17 persen dari tahun sebelumnya, yang dicatat oleh BAAPS.

Tidak hanya itu, Akademi Operasi Plastik dan Rekonstruksi Wajah Amerika (AAFPRS) juga melaporkan bahwa 1/3 dari 2700 anggotanya menyatakan terjadinya peningkatan permintaan operasi plastik karena maraknya foto selfie.

Padahal, operasi plastik bukan operasi kecil biasa, karena implikasinya dapat berlangsung seumur hidup.

“Ketika orang-orang mengubah bentuk tubuhnya karena mereka kira itu akan membuat mereka bahagia, maka yang saya lihat justru sebaliknya,” ungkap seorang psikolog, Emma Kenny.

 

 

 

 

 

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments