Hadaya Dhuha Ramadhan, Drummer Cilik Berprestasi Gemilang di Sekolah

Pekanbaru- Di usianya yang baru 6 tahun, siswa Indonesia Creative School (Internasional) ini sudah terampil memainkan alat musik drum. Ya, itulah Hadaya Dhuha Ramadhan putra pasangan keluarga bahagia Herdy Priadi dan Ernawati.

Bunda Ernawati menceritakan, bakat Dhuha sudah terlihat sejak Ia menginjak usia 1 tahun. Ketika itu, Dhuha yang lagi senang-senangnya bermain, sangat suka dengan alat musik gendang.

“Apa saja yang ada di rumah, selalu digendangnya seperti layaknya orang bermain drum. Tak terkecuali ketika dibawa ke rumah neneknya. Semua alat-alat dapur seperti panci, periuk, dandang menjadi alat untuk ditabuhnya,” kenang Bunda Ernawati sambil senyum sumringah.

Bakat sang anak tentu tak disia-siakan Bunda Ernawati dan suaminya Herdy Priadi. Di usia Dhuha menginjak 4 tahun, sang ayah dan bunda langsung menghadiahkan Dhuha satu set drum. Uniknya, meski ukuran badan Dhuha masih kecil, orang tuanya membelikan alat musik drum ukuran orang dewasa.

“Kalau membelikan drum-drum mainan rasanya tanggung. Jadi kami putuskan untuk membeli satu set drum yang biasa dipakai orang dewasa untuk bermain drum. Kami harap, Dhuha dapat bermain dengan bebas dan cepat mahir,” timpal Herdy Priadi.

Dan benar saja, sejak alat musik drum ‘parkir’ di rumahnya, Dhuha makin rajin bermain drum. Kemampuannya terus terasah. Terlebih lagi ketika Gilang Ramadhan pemain drum terkenal yang sangat disegani se-antero Indonesia membuka studionya di Kota Bertuah. Dhuha mendapatkan kesempatan mempromosikan sekolah drum Gilang Ramadhan di sekolah-sekolah dan pusat perbelanjaan di kota ini.

“Waktu itu usia Dhuha baru 4 tahun, kami daftarkan Dhuha belajar di sekolah tersebut. Kemampuan Dhuha dilirik Gilang Ramdhan dan lantas diajak Gilang Ramadhan berkeliling ke sekolah-sekolah seperti Indonesian Creative School, As-Shofa dan pusat-pusat perbelanjaan yaitu, di Mal Ciputra, Mal Pekanbaru, Mal SKA untuk mempromosikan sekolah drumnya di Pekanbaru,” imbuh Bunda.

Juara I kompetisi drummer se-Sumatera 2013 di Padang

Juara I kompetisi drummer se-Sumatera 2013 di Padang

Selama 3 bulan mengasah ilmu di sekolah drum Gilang Ramadhan, kepiawaian Dhuha mulai terlihat. Hal ini berimbas kepada seringnya Dhuha diajak orang-orang dewasa disekitarnya untuk mengisi posisi pemain drum bila mereka manggung. Tak terkecuali guru-gurunya di sekolah yang punya grup band, meski masih kecil Dhuha kerap disertakan saat tampil.

Tak sampai disitu, Dhuha mulai menunjukkan tajinya. Tak tanggung-tanggung, dalam sebuah event nasional tahun 2012 yang ditaja Gilang Ramadhan dalam sebuah konser drummer cilik se-Indonesia di Jakarta, Dhuha menunjukkan bakat emasnya dengan masuk rangking 10 besar.

Meski belum keluar sebagai pemenang, kemampuan Dhuha sudah dinilai cukup mumpuni sebagai drummer cilik oleh para juri yang berasal dari sekolah drum Gilang Ramadhan yang berpusat di Jakarta, persatuan drummer Indonesia dan pengguna sosial media Twitter.

Hasil ini tak lantas membuat Dhuha puas. Dalam sebuah event se-Sumatera tahun 2013 di Kota Padang, Dhuha berhasil menjadi yang terbaik dan keluar sebagai Juara pertama. Bahagianya lagi, kemenangan Dhuha dalam event ini bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-6 yang jatuh pada tanggal 6 Oktober.

Namun ada satu hal yang istimewa pada Dhuha dan patut dijadikan contoh. Meski dirinya sibuk dengan hobinya diluar sekolah sebagai pemain drum, tak lantas membuat Dhuha lena dan bermalas-malasan menuntut ilmu di sekolah. Hal ini ditanamkan betul oleh sang Bunda yang juga seorang guru dan saat ini menjabat sebagai Direktur di sekolah As-Shofa.

Sang Bunda menjadi panutan istimewa bagi Dhuha. Sang Bunda pula bersama Ayah  tercinta mengantarkan Dhuha tetap berprestasi di sekolahnya. Lihat saja, dikelasnya Dhuha tercatat sebagai siswa yang gemilang. Pelajaran disekolah seperti Bahasa Inggris, Matematika, Science dan Bahasa Indonesia dilahapnya dengan mudah. Jadi jangan heran bila rata-rata nilai Dhuha 99 persen dan dinobatkan sebagai The Best Achievement (juara umum) di kelasnya.

Ketika disinggung tentang masa depan Dhuha, Bunda Ernawati lebih memilih menomorsatukan pendidikan anaknya. Menurutnya, bakat Dhuha akan berguna kelak ketika Dhuha dewasa. Dengan banyaknya ketrampilan dimiliki Dhuha, menjadi bekal buatnya dalam melatih mental dan keberanian. Lagi pula Ia akan mudah diterima dikalangan mana saja, begitu juga dengan dunia kerja.

“Sebenarnya Dhuha punya kesempatan untuk menjadi terkenal lewat pemandu bakat yang menginginkan Dhuha menunjukkan kemampuannya di Jakarta. Namun karena Dhuha anak semata wayang dan pendidikan menjadi nomor satu, kami putuskan untuk mengurungkan kesempatan tersebut,” aku Bunda Ernawati menutup pembicaraan.***(Sukma)

 

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments