250 dari 1.200 Warga Mandau Terjangkit HIV/AIDS

Pekanbaru – Sebuah fakta mengejutkan diungkap Yayasan Permata Shifa. Riset yang dilakukan lembaga tersebut terhadap 1.200 orang di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, 250 di antaranya positif terinfeksi virus HIV/AIDS. Tentu saja kenyataan ini menjadi pukulan keras bagi semua pihak di Bumi Lancang Kuning.

“Di Kabupaten Bengkalis, Kecamatan Mandau merupakan daerah terbesar penyebaran HIV/AIDS, dari lebih 1.200 orang yang diuji, 250 di antaranya positif terjangkit dan terbanyak kalangan ibu rumah tangga,” terang Ketua Yayasan Permata Shifa Kota Duri, Ratna seperti dikutip dari Antara.

Menurut Ratna, Yayasan Permata Shifa telah aktif melakukan edukasi terhadap masyarakat guna menekan wabah HIV/AIDS. Namun dari angka yang kini didapatkan, dipastikan semua pihak harus terlibat dalam menekan penularan penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu.

“Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena Mandau menjadi daerah terbesar penularan HIV/AIDS di Bengkalis atau bahkan di Riau,” lanjut dia.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) serta Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan virus yang menular melalui aktivitas seksual, penggunaan jarum suntik, transfusi dara tercemar dan juga persalinan. Virus ini akan membuat daya imun tubuh secara perlahan melemah, dan dari kebanyakan kasus berujung kepada kematian.

Kampanye kondom tidak efektifMenurut pengamat kesehatan masyarakat, Yose Fransisca SKM, penularan HIV/AIDS akan berbanding lurus dengan tingkat prostitusi di sebuah daerah. Hal ini terjadi karena memang virus tersebut menular sebagian besar dari kasus hubungan seks bebas.

“Itu pasti berkaitan, karena HIV/AIDS sudah pasti tertular dari hubungan seks bebas yang bersumber dari pelacuran. Kalau untuk transfusi darah, pelaksana medis pasti telah mengantisipasi hal ini, jadi rasanya tidak mungkin. Yang harus diingat, kasus-kasus penggunaan narkoba dengan jarum suntik secara bersama-sama juga mampu menularkan HIV/AIDS. Dua faktor ini (prostitusi dan narkoba) yang paling dominan,” ujar Sisca saat dihubungi Pekanbaru.Co, Jumat (22/11/2013) siang.

Dia menambahkan, upaya menekan penularan HIV/AIDS harus dilakukan secara massive, tegas dan sungguh-sungguh. Dia pesimis dengan kampanye penggunaan kondom yang diyakini bisa berdampak baik, jika masih membenarkan adanya prostitusi di daerah.

“Kita ini kan negara berbudaya ketimuran, beragama dan memiliki adat-istiadat. Saya pastikan tidak ada hukum atau budaya dan agama yang membenarkan penggunaan narkoba atau tindakan prostitusi. Jadi, memberantas dua hal itu saja sudah merupakan langkah terbaik memberantas HIV/AIDS. Bukan malah mengkampanyekan ‘seks aman’. Itu merusak moral dan memicu masalah baru,” terang dia. ***(ant/ist/DP)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments