‘Oncel Leco’ ala Komunitas Honda Lipat Kain Hibur Tim Roadventure

Pekanbaru – Malam Akulturasi Pertukaran Budaya antar Komunitas Honda yang digelar di Capella Honda Arengka 88 Pekanbaru, Selasa (19/11/2013) menjadi sarat akan hiburan, setelah Komunitas Honda Lipat Kain memainkan teater rakyat bertajuk ‘Oncel Leco’. Ketokohan yang lucu, dibalut warna komedi membuat Tim Honda Roadventure yang singgah di Kota Bertuah tak mampu menahan gelak tawa.

Honda Riders Riau bersama Tim Honda Roadventure larut dalam kebersamaan saat pertunjukan aksi teatrikal 'Oncel Leco' yang dimaikan Komunitas Bengkel Seni Lipat Kain

Honda Riders Riau bersama Tim Honda Roadventure larut dalam kebersamaan saat pertunjukan aksi teatrikal ‘Oncel Leco’ yang dimainkan Komunitas Bengkel Seni Lipat Kain.| Dok. Pekanbaru.Co/Sukma

‘Oncel Leco’ adalah naskah teatrikal yang dimainkan dalam seni Randai, kesenian khas Melayu dan Minangkabau. Dalam pertunjukan ini, setiap personil memerankan tokoh masyarakat tradisional dengan medium bahasa daerah. Tokoh yang dimunculkan juga lucu sekaligus menggemaskan.

“Kami baru melihat pertunjukan yang begitu menarik. ‘Randai’ yang biasanya dimainkan dalam bahasa Minangkabau, ternyata juga merupakan kesenian masyarakat Melayu. Apalagi dengan nuansa komedi, sangat menghibur,” ujar Ardan, salah satu anggota Tim Honda Roadventure.

Pertunjukan tersebut diawali dengan iringan irama musik kesenian khas Melayu dan Minang.. Dentuman gong (talempong) memulai aksi-aksi kocak dari kisah-kisah humanis. Komunitas Bengkel Seni Lipat Kain yang menggawangi pertunjukan ini begitu mantap memerankan tokoh-tokoh unik.

Ketua Komunitas Seni Lipat Kain, Dodi Rasyid Amin menyebutkan, tim sengaja menyuguhkan aksi ‘Randai’ dalam versi yang telah disesuaikan. Hal ini ditujukan agar tamu (Tim Roadventure, red) bisa sedikit-banyaknya memahami dialog dalam pertunjukan tersebut.

“Kami berasal dari Lipat Kain yang hanya dibatasi oleh deretan perbukitan dengan wilayah Sumatera Barat (Minangkabau). Seni yang ada tak jauh berbeda. Tapi ‘Randai’ itu rumit dan susah dipahami, makanya kami mainkan dalam bahasa Ocu (sebutan untuk perpaduan antara bahasa Minang dan Melayu yang banyak digunakan masyarakat Kabupaten Kampar),” imbuh dia. ***(DP)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments