Nancy Sintya, Duta Peace Generation Riau: Perbedaan Itu Indah

Pekanbaru – “Tuhan menciptakan semuanya dalam keberagaman. Sebenarnya, perbedaan itu indah,” tutur Nancy Sintya, Duta Peace Generation Riau saat berbincang dengan Pekanbaru.Co, Kamis (7/11/2013) siang.

Nancy Sintya bersama peserta Peace Camp di lingkungan masyarakat Cianjur

Nancy Sintya bersama peserta Peace Camp di lingkungan masyarakat Cianjur.| Dok. Ist

Kesempatan bergabung dalam event Peace Camp yang ditaja komunitas Peace Generation (Pisgen) di Cianjur, Jawa Barat pada 3 hingga 5 November lalu telah memberikan pengalaman berharga bagi siswi SMA Witama School Pekanbaru ini. Nancy, demikian dara ini biasa disapa, mengaku mendapatkan materi yang begitu penting  mengenai realitas kehidupan, termasuk konflik sosial dan agama.

“Di sana kami belajar menjadi pribadi yang lebih baik, bagaimana cara kita melihat diri sendiri dan juga potensi pribadi,” lanjut Nancy yang juga merupakan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Witama School tersebut.

Tak hanya itu, Peace Generation yang membawa misi perdamaian dan pengentasan konflik dengan keterlibatan remaja (youth) juga memberikan pemahaman yang luar biasa mengenai fenomena sosial yang belakangan muncul. Kemiskinan yang masih terjadi di Indonesia hingga konflik serta perang saudara di beberapa wilayah merupakan hal yang tak perlu, dan seharusnya tidak terjadi. Padahal pembangunan yang tengah digadang-gadangkan tak akan berhasil tanpa keterlibatan semua pihak.

“Bayangkan saat kita menyusun puluhan botol plastik menjadi menara, yang lainnya melempari botol-botol itu. Tentu saja menara tersebut tidak akan berdiri. Begitulah, konflik dan saling menghancurkan justru hanya akan membuat pembangunan tersendat dan bahkan gagal,” terangnya panjang lebar.

Mengenai fenomena kemiskinan, Nancy mengaku begitu tersentuh saat menyaksikan kenyataan yang menimpa kelompok masyarakat miskin di Ciajur. Saat kelompok Peace Camp, termasuk Nancy, mengunjungi sebuah keluarga yang memiliki anak penderita hydrocephalus di daerah itu, mereka merasa sangat prihatin.

“Bangsa ini masih memiliki tugas berat mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Kami sangat prihatin, mereka tinggal di rumah yang sangat kecil dan sederhana. Bahkan tak mampu mengobati anaknya yang menderita hydrocephalus,” kisahnya.

Usai keterlibatannya dalam Peace Camp, Nancy kini memulai misinya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di lingkungan sekolah maupun masyarakat. “Setidaknya nanti saya bisa berbagi pengalaman tentang materi di Peace Camp kepada teman-teman di sekolah. Kita harus menjaga perdamaian, perbedaan itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan,” lanjut dia. ***(DP)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments