Menjelang Pergantian Tahun, Inflasi Riau Diperkirakan Tertekan

Pekanbaru – Provinsi Riau dalam kurun 2013 memang terbilang jauh dari gejolak inflasi. Oktober lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) hanya mencatat inflasi pada kisaran 0,8 persen. Menjelang pergantian tahun, inflasi pun diperkirakan tertekan pada angka 0,03 persen hingga 0,2 persen pada periode November 2013.

Pertumbuhan ekonomi Riau.| Dok. Indonesiatimur.coDirektur Moneter Bank Indonesia (BI) Wilayah Riau Abdul Madjid Ikram memprediksi akan ada arah positif mengiringi stabilnya permintaan pasar dan harga di tingkat konsumen. Apalagi dengan normalnya permintaan pada Idul Adha lalu, inflasi yang tinggi makin jauh dari Bumi Lancang Kuning.

Namun, ujar Abdul, tetap ada sejumlah faktor yang dapat membawa inflasi pada batas kisaran proyeksi seperti masalah gangguan cuaca yang membuat pasokan makanan ke wilayah Riau terganggu. “Nilai tukar rupiah yang juga belum menguat sulit mengembalikan posisi ideal bagi pengusaha,” kata dia.

Masalah pelemahan rupiah di pasar global memang sangat berpotensi mengacaukan ekonomi nasional. Hal ini berkaitan dengan peningkatan harga bahan baku produksi yang sebagian diimpor dari luar negeri.

Sebelumnya, BPS Provinsi Riau mempublikasikan hasil perhitungan inflasi yang hanya berada pada level 0,8 persen. Kepala BPS Riau Mawardi Arsyad saat berbincang dengan wartawan menyebutkan, inflasi lebih disebabkan oleh peningkatan di lima kelompok pengeluaran utama.

“Lima kelompok itu adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,57 persen, kelompok makanan 1,30 persen, kelompok kesehatan 0,43 persen, kelompok perumahan 0,35 persen, dan kelompok transportasi 0,26 persen,” ujar Mawardi di Pekanbaru.

Kelompok bahan makanan yang menjadi penyumbang inflasi terbesar disebabkan oleh menanjaknya harga cabai merah keriting karena faktor cuaca di kawasan sentra produksi. Bahkan naiknya harga cabai mempengaruhi 50 persen dari total penyebab inflasi periode Oktober 2013.

Kendati demikian, sejumlah bahan makanan lain justru menunjukkan status stabil hingga turun. Harga bawang merah misalnya, turun ke level 0,19 persen, daging ayam turun 0,05 persen, emas perhiasan dan angkutan antar kota masing-masing turun 0,02 persen. Sedangkan kentang, daging sapi, telur ayam, kangkung, ikan tongkol dan gula pasir ikut membuat degradasi inflasi sebesar 0,1 persen. ***(DP)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments