Kenaikan Harga Sawit dan Karet Pacu Kesejahteraan Petani Riau

Pekanbaru – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau menyimpulkan, kenaikan harga komoditas kepala sawit dan karet beberapa waktu terakhir telah berhasil memacu kesejahteraan petani. Hal ini diperlihatkan oleh naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,38 persen hingga menyentuh angka 100,41.

Petani“Karet dan sawit menjadi penyumbang terbesar. Dampaknya cukup signifikan,” terang Kepala BPS Riau Mawardi Arsyad kepada wartawan, Senin (4/11/2013).

Dijelaskan, dari data yang dihimpun BPS tampak Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) berada pada level 109,30; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 111,23; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 94,49; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPPT) 102,99 serta Nilai Tukar Petani Nelayan (NTPN) 88,59.

Data tersebut juga menunjukkan komoditas penyumbang kenaikan tertinggi dipegang oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,86 persen. Di Riau, sektor tersebut diisi oleh tanaman jenis kepala sawit dan karet.

Kenaikan harga karet menyumbang andil 1,20 persen, diikuti oleh kelapa sawit sebesar 0,66 persen. Jenis lainnya berupa buah-buahan hasil perkebunan mengalami fluktuasi, namun tidak terlalu berpengaruh.

Di lain sisi, indeks harga yang harus dibayar petani sebenarnya juga mengalami kenaikan, terutama pada subsektor tanaman hortikultura sebesar 0,71 persen. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah kebutuhan petani seperti barang-barang konsumsi rumah tangga dengan andil 0,77 persen; cabe rawit 0,05 persen; jeruk dan rokok filter masing-masing sebesar 0,04 persen.

NTP adalah rasio perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (hasil jual produk pertanian) dengan harga yang harus dibayarkan oleh petani. NTP juga difungsikan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat kesejahteraan petani. Semakin tinggi NTP, merupakan gambaran meningkatnya perekonomian petani. Sebaliknya, turunnya NTP secara drastis dapat menyebabkan gejolak harga yang merupakan imbas kompleks dari daya beli petani. ***(DP)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments