Ramadhan, Pekanbaru Tuai Inflasi 1,96 Persen Selama Juli 2013

Pekanbaru – Faktor periodik Ramadhan 1434 H akhirnya kembali membuat Pekanbaru menuai angka inflasi selama bulan Juli 2013. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat kolaborasi kenaikan harga komoditas pangan telah menghasilkan inflasi 1,96 persen dengan laju Indek Harga Konsumen (IHK) sebesar 141,68.

Kepala BPS Provinsi Riau, Mawardi Arsyad menyebutkan, dalam sebulan terakhir seluruh kota di Sumatera mengalami inflasi dengan indeks tertinggi berada di Padang Sidempuan sebesar 3,70 persen. Sementara Sibolga justru menduduki peringkat terbaik di angka 1,71 persen.

“Dari 10 ibukota provinsi di Sumatera, Tanjung Pinang mengalami inflasi tertinggi sebesar 3,68 persen. Sementara Pekanbaru menempati urutan yang ke sembilan. Kenaikan harga BBM, tahun ajaran baru, bulan Ramadhan dan menyongsong hari raya Idul Fitri yang nyaris datang bersamaan memacu tingkat inflasi di semua wilayah Indonesia,” ujar Mawardi saat berbincang dengan wartawan, Kamis (1/08/2013).

Dijelaskan, inflasi Pekanbaru terjadi karena adanya peningkatan di hampir semua kebutuhan. Kelompok transportasi kini menjadi pemacu tertinggi sebesar 7,73 persen dan diikuti kelompok bahan makanan sebesar 3,01 persen, pendidikan 0,44 persen, perumahan 0,35 persen, dan kesehatan 0,17 persen. Sisanya diisi oleh kelompok makanan jadi sebesar 0,07 persen.

“Berbicara mengenai komoditas penyumbang inflasi di Pekanbaru, tentu saja sesuai dengan peningkatan dari kelompok transportasi, yakni bensin (premium dan pertamax plus, red) 0,92 persen, bawang merah 0,46 persen, daging ayam 0,12 persen, telur 0,08 persen, serta sejumlah kelompok lain yang angkanya tidak terlalu besar,” lanjut dia.

Kendati demikian, angka inflasi ini masih dianggap sangat toleran mengingat begitu banyak faktor pemicu yang muncul secara serentak. Dengan angka inflasi Juli 2013, laju inflasi tahun kalender Pekanbaru berkisar 5,98 persen. Sementara inflasi ‘year on year’ pada kisaran 7,50 persen. ***(Sukma)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments