Bijaksana Ajarkan Buah Hati Berpuasa

Pekanbaru— Mengajarkan anak untuk taat beribadah sejak dini memang sangat penting. Hanya saja, upaya tersebut juga mesti diimbangi dengan kesehatan dan kondisi tubuh anak. Seperti halnya mengajarkan anak berpuasa di bulan Ramadhan, yang belum dianjurkan ketika buah hati masih berusia balita (bawah lima tahun).

 

Seorang spesialis gizi, Dr. Tirta Prawita Sari, MSc, SpGK menuturkan, anak-anak balita dan bahkan hingga menginjak usia akil balig, organ hatinya belum berkembang dengan sempurna. Sementara, aktivitas puasa membutuhkan kondisi hati yang prima.

Hati memiliki peranan penting sebagai cadangan energi. Ketika berpuasa, hati akan menyuplai energi ke tubuh saat makanan telah dicerna secara utuh. Hal inilah yang membuat orang dewasa lebih tangguh menjalani puasa daripada anak-anak.

“Saat puasa, setelah 4 jam anak tidak punya cadangan energi. Orang dewasa bisa ambil cadangan energi dari hati, cadangan lemak, anak-anak tidak punya itu. Maka saya tidak menganjurkan anak-anak untuk berpuasa dulu,” ujar Dr. Tirta yang kini aktif sebagai Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi ini, seperti dikutip dari Detikcom.

Agama, lanjut dia, tidak menganjurkan puasa bagi anak-anak yang belum balig. Artinya, jika orangtua melakukan hal ini sebagai pembiasaan, maka harus ada acuan tertentu agar pertumbuhan anak tidak terganggu.

Orangtua tetap bisa mengajarkan berpuasa kepada buah hati mereka, namun disarankan itu mulai usia 8 atau 9 tahun. “Untuk anak yang berusia di bawah itu, jika saat puasa mereka mengeluh lemas berarti cadangan energinya sudah habis. Langsung disegerakan berbuka saja. Jangan lantas ditunda-tunda,” jelas Tirta.

Jadi, ajarkan anak Anda dengan bijak. Utamakan iman dan takwa karena itu dibutuhkan dunia akhirat, namun jangan sampai mengorbankan kesehatannya. ***(dtc/Dian)

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments